Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Jual Beli dalam Islam
Cari Berita

Advertisement

Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Jual Beli dalam Islam

Saturday, October 26, 2019

Ilustrasi Jual Beli (sumber: www.pexels.com)

Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Jual Beli dalam Islam-- Orang muslim yang melakukan kegiatan jual beli wajib mengetahui aturannya. Hukum Islam telah mengatur tata cara bagaimana melakukan jual beli yang baik dan sesuai syariat Islam. Ini dimaksudkan agar praktik jual beli tersebut berjalan sah. 

Akan tetapi, kita patut bersedih karena kaum muslimin banyak yang mengabaikan hal ini. Mereka enggan mempelajari masalah aturan Islam tentang muamalah. Mereka tidak peduli terhadapnya. Akibatnya tanpa disadari mereka telah makan barang haram. Untuk itu marilah kita pahami dan perhatikan hukum syariat berikut.

Landasan Hukum Jual Beli dalam Islam


Bagi orang muslim, setiap kegiatan mutlak harus mempunyai landasan sesuai sumber hukumnya. Landasan hukum yang menjadi acuan tidak lain adalah Al-quran dan Hadis. Untuk itu perhatikan kutipan surat Al-baqarah ayat 275 berikut ini:

"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba"

Dari ayat tersebut kita ketahui bahwa sesuangguhnya kegiatan jual beli merupakan hal yang halal, artinya diperbolehkan dalam Islam. Bahkan pekerjakan Rasulullah Saw. merupakan seorang pedagang.

Artinya kegiatan jual beli merupakan kegiatan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai suatu kegiatan guna memenuhi kebutuhan hidup. Dalam praktinya kegiatan ini bisa berupa kegiatan yang sederhana sampai pada kegiatan jual beli yang menyangkut sebuah perusahaan.

Secara jelas dari ayat tadi bahwa secara keseluruhan praktik jual beli adalah hal yang diperbolehkan. Pertanyaannya adalah kegiatan jual beli yang seperti apa yang diperbolehkan? Tentunya yang diperbolehkan adalah jual beli yang halal, sebagaimana hadis nabi berikut ini:

"Sesungguhnya Allah suka melihat hambanya berusaha mencari barang halal" (HR Ath Thabrani)

Selanjutnya hadis berikut ini:

"Usaha seseorang dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang baik" (HR Bazar)

Pertanyaan selanjutnya adalah halal yang dimaksud itu seperti apa? Halal yang dimaksud adalah kegiatan yang sesuai dengan tuntunan dan tata cara dalam hukum jual beli Islam. 

Berikut firman Allah Quran surat al-baqarah ayat 275 yang berbunyi berikut.

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar) kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu."

Dari ayat di atas jelaslah kita ketahui bahwa Allah melarang kepada kita memakan harta dengan cara yang batil. Salah satu harta dari cara yang batil di antaranya melalui jual beli yang tidak sesuai dengan syariat Islam. bentuk larangan tersebut misalnya berupa penipuan dan praktek curang yang merugikan salah satu pihak.

Maka Ayat tersebut menyatakan bahwa jual-beli yang tidak sesuai dengan hukum akan menghasilkan perilaku batil yang menghasilkan harta yang haram.

Harta yang haram itulah yang berbahaya bagi kehidupan orang tersebut karena harta yang termakan akan masuk ke dalam darah dan dan Mungkin saja akan termakan oleh keturunan kita.

Untuk itu marilah kita fahami hal berikut ini.

Rukun Jual Beli dalam Islam


Rukun jual beli adalah adanya akad Ijab dan qabul. Akad ijab kabul ini bisa dengan bentuk perkataan ataupun perbuatan. Ijab adalah perkataan penjual seperti ucapan "Saya menjual barang ini kepada kamu dengan harga 1000"

Akad Ijab Qabul secara lisan ini biasanya hanya berlaku untuk jual beli barang barang bernilai besar, seperti rumah mobil dan tanah. untuk barang-barang yang sepele jarang digunakan akad Ijab Qabul secara lisan.

Ijab Qabul dalam bentuk perbuatan adalah dengan cara serah terima. Yakni adanya perbuatan mendapat dan memberi. Penjual memberikan barang kepada pembeli, kemudian membeli mendapat barang sekaligus menyerahkan uang pembayarannya. Ijab kabul secara perbuatan ini biasanya berlaku untuk jual-beli barang barang bernilai rendah.

Syarat Jual Beli dalam Islam


Syarat jual beli berarti adalah syarat yang harus dipenuhi saat terjadinya jual beli. apabila saat ini tidak dipenuhi maka jual beli tersebut dapat dikatakan tidak sah. Untuk itu pahami hal-hal berikut ini.

1. Orang yang berakad


Dalam melakukan jual beli syarat yang pertama adalah Ah adanya orang yang melakukan akad. artinya dalam jual beli Harus jelas Siapa yang menjual dan siapa yang membeli. 

Untuk itu saat melakukan jual beli akan menjadi sangat sempurna apabila kedua belah pihak secara jelas diketahui keberadaannya.

2. Barang yang diakad


Syarat yang selanjutnya adalah adanya barang yang diakadkan atau barang yang diperjualbelikan. seseorang yang menjual suatu barang dengan barang yang tidak jelas seperti tidak diketahui keberadaannya nya au barang tersebut jelas tidak ada maka jual beli tersebut dapat dikatakan tidak sah.

Maka dari itu orang yang melakukan jual beli dan barang yang diperjualbelikan harus jelas keberadaannya agar hukum jual beli yang kita laksanakan sah dimata Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Syarat orang yang berjual beli


Jual beli tentunya dilakukan oleh manusia. Sebab Manusia merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan berupa makhluk sosial dimana seseorang tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan oleh orang lain. 

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka orang tersebut melaksanakan jual beli. Penjual rela melepas barang karena mereka membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitupun sebaliknya pembeli merelakan uangnya diberikan kepada penjual karena ia membutuhkan barang tersebut.

Namun, dalam jual beli ini orang tersebut haruslah memenuhi syarat berikut.

1. Orang yang diperkenankan secara syariat


Dalam transaksi jual beli yang harus diperhatikan adalah para pelaku yang diperbolehkan menurut syariat seperti
  • Merdeka
  • Mukallaf
  • Sehat akalnya

Oleh karena itu tidak sah jual belinya apabila dilakukan oleh anak kecil, orang gila dan hamba sahaya yang tanpa izin dari tuannya.

Para pelaku jual beli haruslah sehat. Dalam arti sehat akalnya berarti orang tersebut tidak dalam keadaan gila atau dalam keadaan tidak sadar karena berbagai hal. 

Beberapa penyebab hilangnya akal biasanya dikarenakan gila, atau karena mengkonsumsi yang menyebabkan tidak sadar, dan lain lain.

Intinya, selama orang tersebut tidak dalam dalam kondisi hilang akal, maka proses jual beli menjadi tidak sah.

Sebab dalam jual beli ada rukun yang harus dipenuhi yaitu ijab kabul yang harus dilakukan atas dasar kerelaan dan tanpa tekanan dari pihak manapun.

Selain itu, tidak sah jual beli bagi anak kecil yaitu jual beli yang biasa dilakukan oleh orang dewasa, seperti penjualan rumah, mobil, dan aset-aset yang nilainya sangat tinggi. Sementara apabila barang yang diperjualbelikan sifatnya sepele, maka dianggap sah sah saja.

2. Kedua belah pihak harus saling Rida/ikhlas


Jual beli dalam keadaan keterpaksaan atau dalam paksaan jelas jual beli tersebut tidaklah sah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Alquran surat An-Nisa ayat 29 berikut ini.

"Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.Dan jalanganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu"

Kemudian ada hadis yang berbunyi berikut.

"Hanya saja jual beli itu terjadi dengan asa keridoan" (H.R. Hiban dan Ibnu Majah)

Dari hadis tersebut dalam proses jual beli kedua belah pihak mutlak harus di dasarkan atas rasa ikhlas dan tidak dalam kondisi tekanan dari siapapun.

3. Barang yang diakadkan  harus milik pihak penjual


Tidak dibenarkan atau tidak sah penjualan apabila barang yang diakadkan merupakan bukan milik penjual. Hal ini sesuai dengan hadis nabi yang berbunyi. Maksudnya adalah apabila seseorang harta yang bukan miliknya misalnya barang tersebut adalah statusnya pinjaman atau gadaian.

"Janganlah engkau menjual apa yang bukan milikmu" (H.R. Ibnu Majah)

Namun, apabila penjualan yang diwakilan kepada penjual maka jual beli tersebut adalah sah. Umpamanya si A pemilik barang, meminta kepada si B selaku perantara. Si A mengkuasakan penjualan kepada si B untuk menjualkan barang tersebut kepada si C. Maka penjualan tersebut sah.

Itualah sekelumit Landasan Hukum, Rukun, dan Syarat Jual Beli dalam Islam. Mudah-mudahan bermanfaat. Apabila ada kritik dan saran harap diisi di kolom komentar.