Setiap Masa, BNI selalu Menjadi yang Pertama

Setiap Masa, BNI selalu Menjadi yang Pertama -- Sejujurnya, aku menggunakan jasa perbankan manakala memasuki fase pendidikan ke perguruan tinggi. Ini memang terlihat kuper  (kurang pergaulan) dimana kebanyakan anak SMA yang telah berusia lebih dari 17 tahun waktu itu banyak yang telah menggunakan fasilitas ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Ini berbeda denganku, mengapa? 

Di kampungku mana ada ATM, ke sekolah saja aku harus berjalan kaki sejauh hampir 6 kilo meter. Bank hanya ada di kecamatan dengan jarak yang tentunya lebih jauh dari sekolahku. Itulah kenyataannya, tapi kondisi seperti itu, tak menyurutkan niat untuk terus sekolah seperti yang diinginkan orang tua. Perjalanan itu memang tak seberapa, toh aku masih diberi uang jajan. Jika dibandingkan dengan kondisi orang tuaku (dahulu), dimana untuk belajar ke sekolah dasar saja, Beliau harus memikul sekeranjang singkong terlebih dahulu ke pasar untuk ditukar dengan uang jajan, itu pun kalau laku. 

Tapi aku patut bersyukur, karena aku adalah salah satu anak yang beruntung bisa lolos seleksi  ke Perguruan Tinggi Negeri. Masih ingat raut muka bangganya orang tuaku waktu itu. Tak henti-hentinya Beliau menceritakan keberhasilanku kepada teman-temannya. Sebagai ungkapan rasa syukur, sebelum berangkat ke perguruan tinggi, keluarga kami pun mengadakan syukuran.

Tibalah saatnya aku dan orang tuaku pergi ke kota Bandung tempat aku diterima menjadi mahasiswa, untuk proses registrasi. Di mobil umum, kami sangat mengantuk, sebab semalaman aku tak bisa tidur dan ternyata kondisi itu sama dengan yang dialami orang tuaku, mereka juga sama-sama gelisah tak sabar ingin segera mengantarkan anaknya ke perguruan tinggi.

Memasuki gerbang universitas kami terpana, tapi bukan dengan kemegahan bangunannya. Tapi ada rasa masih tak percaya bahwa ternyata aku bisa menginjakkan kaki ke perguruan tinggi ini. Rasanya perjuangan selama ini tak sia-sia. Masa kecil yang aku habiskan dengan bermain di lereng gunung, kini akan menjadi manusia yang hidup di kota dan berkenalan dengan teman-teman seangkatan dari berbagai kota. Ya singkatnya aku kini menjadi mahasiswa.

**

Menjadi mahasiswa baru, sebagaimana pada umumnya untuk keperluan sehari-hari, aku memang belum bisa mandiri. Dimana untuk keperluan kontrakan dan biaya lainnya masih diberi dari orangtua. Ya mereka sebulan sekali sering datang mengunjungiku sekaligus untuk memberi biaya kehidupan sehari-hari. 

Sebenarnya aku tak tega melihat mereka harus bersusah payah mengunjungiku untuk sekadar memberikan uang untuk semua keperluan. Maklum orang tuaku sudah sepuh, tak dapat dipungkiri usia tak bisa berbohong, tapi saat itu aku belum bisa menemukan solusi. Hingga akhirnya temanku menyarankan untuk memakai jasa perbankan.

“Kenapa tidak ditransfer saja, hari gini masih pake manual. Pake ATM dong” . 

Memang benar apa yang diucapan temanku itu, mengapa aku tidak menggunakan jasa bank. Akupun ingin secepatnya meringankan beban orang tuaku dengan menggunakan jasa bank. Namun temanku menyarankan untuk tidak tergesa-gesa memilih bank, sebab setiap bank mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri. 

“Carilah bank yang dekat dengan kampus kita, dan yang terpenting saldo minimalnya kecil. Sehingga saat kepepet kamu masih bisa mengambilnya” temanku memberikan masukan.

“Satu lagi, pastikan bahwa bank tersebut sudah familiar. Maksudnya, bank tersebut merupakan bank yang kuat dari krisis ekonomi. Dan yang utama tidak hanya ada di dekat kita, tapi harus ada juga di kampungmu, jadi tidak merepotkan keluargamu”

Dengan berbekal saran dari teman, akhirnya aku mencari tahu informasi keberadaan bank tersebut. Di sekitar kampus memang ada beberapa bank yang mendirikan kantornya lengkap dengan fasilitas ATMnya. Dari sekian banyak bank, bank BNI-lah yang paling mempunyai banyak kelebihan, sebab letaknya tidak di sekitar kampus, tapi memang di dalam kampus. Selain itu BNI juga satu-satunya bank yang ada di kecamatanku yang membuka kantor lengkap dengan fasilitas ATM-nya, bank lain hanya kantornya saja. Memang jarak dari kampungku ke kecamatan cukup jauh, tetapi tentu saja tak sejauh memberikan uang secara langsung ke tempat dimana aku belajar.

Maka aku pun mendaftarkan diri sebagai member dari bank tersebut. Saat hari libur, aku pun menyempatkan diri pulang dan memberitahukan kepada orang tuaku. Orang tuaku awalnya memang menolak dengan alasan “tak bisa menggunakannya” , namun kubujuk dengan menyakinkan bahwa semua itu gampang dilakukan. Sebab nanti ada petugas bank yang membantu untuk proses transfer. Orang tuaku memang kusarankan untuk proses transfernya tidak menggunakan ATM, tapi dengan cara menabung. Cara tersebut memang lebih gampang karena tidak memerlukan ketelitian dan tombol-tombol yang “asing” menurut orang tuaku, hanya tinggal menyetorkan saja ke bank, selanjutnya petugas akan memasukkannya, dan uang pun sudah masuk rekening. 

Selain itu, Bank BNI juga memanuhi semua syarat yang disarankan oleh temanku itu. Misalnya saldo minimal yang relatif kecil jika dibandingkan dengan bank yang lainnya. Ini kelihatannya sepele, tetapi seiring waktu, ketentuan ini sangat terasa manfaatnya. Sebagai contoh sebagai mahasiswa sejujurnya saldoku memang selalu pas-pasan, bahkan selalu kurang dari 100 ribu atau 50 ribu. Namun dengan saldo minimal yang kecil aku masih bisa mendapatkannya dengan mengambil nominal ATM yang bisa menarik uang di ATM dengan nominal 20.000-an. Ini menjadi suatu kelebihan bagiku, sebab banyak temanku yang saat itu menggunakan bank lain mengeluhkan saldo minimalnya yang sangat besar, bahkan ada bank lain yang menetapkan saldo minimal sampai 100 ribu. 

Sejak saat itu, aktivitas lalulintas pendanaaku menjadi lancar. Bahkan interaksi aku dengan Bank BNI kini tidak hanya sebatas transfer dari orang tuaku saja. Seiring dengan waktu, sebagai mahasiswa tentu aku tidak merasa cukup hanya sebatas mahasiswa akademis yang mencari ilmu secara teori saja. Tetapi aku juga mencoba belajar secara praktis dengan memasuki UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) dimana saat itu aku pernah menjadi ketua salah satu UKM yang selaras dengan bidang jurusanku sebagai mahasiswa sastra, yakni UKM teater.

Suatu waktu, kami akan membuat sebuah pertunjukan, semua kegiatan hampir memasuki tahap akhir dimana kami telah mengumumkan kegiatan tersebut melalui berbagai media seperti poster dan baligho yang ada di kampus kami. Tentu saja dengan promosi tersebut, sudah dipastikan banyak yang membeli tiket. Dari tiket yang terjual, bisa diprediksi penonton yang akan datang pasti membludak. Maklum di kampusku saat itu teater sangat popular, bisa mengalahkan dominasi bioskop.

Namun kami mempunyai kendala, dimana kami kekurangan dana untuk proses pembuatan artistik panggung. Hasil penjualan tiket dan dana yang diberikan oleh universitas ternyata tidak cukup untuk memenuhi semua proses yang telah berjalan. Kondisi ini menjadi kekhawatiran tersendiri, bayangkan bagaimana jika pertunjukan tidak jadi digelar? Tentunya akan mengecewakan penonton. 

Maka aku pun memberanikan diri untuk mangajukan proposal kegiatan kepada bank BNI, dan ternyata, proposal kami diterima. Kami memperoleh kucuran dana. Dengan dana tersebut, kami pun tak menyia-nyiakan  dengan langsung membereskan semua aktivitas yang menyangkut pertunjukan teater, saat itu menjelang satu minggu menjelang hari H. Sebagai ungkapan terima kasih, kami pun menyertakan logo BNI di baligo yang telah terpasang di kampus kami. Baligo yang kami buat merupakan baligo cat dengan ukuran 12 papan triplek. Itu semua dilakukan dengan cara melukis dengan cat. Saat itu, teknik printing belum popular, tetapi keuntungan dengan sistem cat yaitu sangat mudah jika ada penambahan materi seperti penambahan sponsorship dan atribut lainnya jika dirasa kurang. 

Alhamdulillah, kegiatan pun berhasil kami gelar, dan penonton bisa menikmati pertunjukan kami. Bahkan banyak dari penonton yang merasa senang dan puas dengan pertunjukkan kami. Ini bisa diketahui, sebab setelah selesai pertunjukkan, kami selalu berinteraksi dengan penonton melalui diskusi terbuka. 

Sudah menjadi suatu tradisi di kampusku segala sesuatu selalu diakhiri dengan diskusi. Kritik dan saran sudah biasa kami terima dan syukurlah untuk kegiatan tersebut kami banyak mendapat pujian karena selain dari factor keaktoran, juga dari artistik yang bagus membuat pertunjukan terasa megah. 

Tentunya kesuksesan tersebut tak lain karena adanya dukungan dana, salah satunya yang menjadi kunci kucuran dana dengan keberadaan bank BNI. Sejak saat itu, BNI selalu menjadi mitra sponsor dari acara teater kami, bahkan hubungan link tersebut kami wariskan kepada adik-adik tingkat untuk selalu menjaga hubungan baik dengan bank BNI.

Bank BNI selalu menjadi mitraku tidak hanya bersifat pribadi dan kelompok saat menjadi mahasiswa, tetapi kini bank BNI bahkan menjadi mitraku saat aku merintis sebagai seorang wirausahawan. Usahaku merupakan supplier barang yang berkenaan dengan rekanan dengan berbagai instansi terutama pemerintah yang tentunya kebanyakan dari instansi tersebut menggunakan bank BNI sebagai bank utamanya. 

Banyaknya instansi pemerintah yang menggunakan bank BNI menjadikanku tak kesulitan dalam urusan lalu lintas pencairan dana. Dari hasil usahaku dengan dukungan dari bank BNI, kini aku mendapatkan rumah sederhana yang menurutku lebih dari cukup. 

Sekali lagi BNI selalu ada di dalam hidupku untuk masa depanku. Saya ucapkan terimakasih kepada BNI karena selalu menjadi mitra dari setiap masa dalam pengalaman hidupku.


No comments:

Post a Comment