Teater dalam Produksinya

Teater dalam Produksinya -- Seringkali menjadi obrolan kacangan atau entah basa-basi, ketika seseorang bertanya “Apa kesibukanmu, Nak?” Lantas saya menjawab “Berteater atau main drama,” maka apa yang ada dalam pikiran sang penanya selain kerutan wajah seolah-olah memberikan pertanyaan lain: Kenapa mesti itu, itu kan pekerjaan buang-buang waktu dan pikiran saja. Andai saja pekerjaan menjadi seorang pemain teater setingkat PNS (Pegawai Negeri Sipil), mungkin keadaannya akan berbalik 180 derajat. Di depan gedung pertunjukan akan antri beribu-ribu pelamar, atau bahkan akan ada kasus suap atau kolusi agar ia diterima menjadi pemain teater.

Kasus seperti itu memang seharusnya kita pikirkan dengan serius — terutama bagi dramawan atau pelaku seni teater. Seperti lirik “Serius Band” yang diubah, bahwa “Pelaku teater juga manusia” yang pada kenyataannya selalu berdampingan dengan masalah hidup seperti mempunyai pekerjaan tetap, pernikahan, mempunyai anak, cucu dan sebagainya.

Dalam hal ini kita dapat menemukan dua permasalahan. Pertama, menanggapi permasalah tersebut tentu yang merasa diri sebagai penggiat teater akan menjawab dengan dalih-dalih subjektifnya, tetapi pada kenyataannya memang di masyarakat kita, teater itu sendiri belum bisa menjadi penghasilan sebagaimana kelompok teater-teater di Barat. Teater belum mempunyai prestise di masyarakat. Di masyarakat bahkan, seorang pemain sinetron biasanya lebih dihargai daripada pemain teater. Kedua, bagi pelaku teater itu sendiri kita dapat menemukan dua kelompok. Ada penggiat yang benar-benar menyerahkan teater sebagai sebuah karya seni, kesenian itu yang mesti dihidupi. Kelompok ini biasanya orang-orang militan yang menghargai kesenian apapun keadaannya atau ia sendiri dalam keadaan mapan (mempunyai pekerjaan tetap tetapi terus berkecimpung di wilayah kesenian)  dan ada pula yang menganggap teater sebagai hidup yang harus bisa menghidupi diri dan keluarganya. Lagi-lagi pernyataan itu bisa dianggap sah-sah saja.

Tidaklah heran jika banyaknya bermunculan pemain teater baru diikuti pula dengan hilangnya beberapa aktor yang cukup kompeten beralih profesi ke bidang yang lain. Maka tolak ukur banyaknya penggiat teater yang hadir dalam berbagai bentuk sayembara atau lomba, kiranya belum tentu diikuti dengan eksistensinya di teater beberapa tahun ke depan. 

Hingga kini, hanya beberapa kelompok teater yang mempunyai nama di masyarakat, sebutlah misalnya Teater Koma, Teater Populer, Teater Mandiri, Bengkel Teater Rendra, Teater Garasi, Teater Payung Hitam, dan Mainteater yang bisa memproduksi karyanya dengan biaya produksi yang cukup besar, selebihnya kelompok-kelompok teater yang terus bernapas di ambang kepunahan. Bukankah kelompok teater yang sudah mapan tadi kebanyakan telah berkiprah dari tahun 70-an. Lalu yang menjadi pertanyaan, kemanakah produktivitas kesenian teater saat saat ini, siapa penerus teater-teater tersebut?

Menilik lagi jejak perkembangan teater khususnya di tanah air sepertinya patutlah kita bangga dengan bermuncullan teater baru dengan berbagai gaya, tetapi sampai kapankah kelompok teater itu akan bertahan, inilah yang menjadi persoalannya. Bukankah sebuah kelompok teater akan berkembang jika pelaku teater benar-benar komitmen dan ditunjang oleh aspek-aspek kehidupannya yang lain dan salah satunya dana untuk mencukupi kebutuhan pribadinya.


Lalu bagaimana agar sebuah karya teater tidak dianggap sebagai pemborosan dan buang-buang waktu. Tentu saja bagi penggiat seni nomor satu tak ada permasalahan, sebab ketika karya itu selesai ditampilkan, maka tugasnya selesai tanpa harus memikirkan honor atau apapun bagi pelaku tersebut. Batiniahnya sudah terpenuhi sebagai pelaku teater yang ingin menghidupi kesenian. Tetapi bagi kelompok kedua, ketika selesai sebuah pagelaran hal yang ia pikirkan tentulah keuangan, setidaknya untuk mengganti waktu-waktu yang terpakai selama latihan dan sebagainya.

Apa yang harus kita kerjakan. Bila kita mencermati, jelaslah disini teater harus kita posisikan sebagai produk, sebab teater itu sendiri erat kaitannya dengan publik penonton dan produk tidaklah mungkin terlepas dari sebuah keproduksian. Teater bukan disebut teater jika tidak ada penontonnya. Kehadiran penonton mutlak harus ada dan jika  penonton ada tentulah harus memberikan kepuasan kepada penonton dengan tontonan yang menyegarkan agar untuk produksi-produksi selanjutnya penonton tersebut bisa menjadi masa penggiat teater. Lebih jauhnya harus ada analisis secara seksama.

Jika kita klasifikasikan ada tiga hal yang harus kita kerjakan dalam sebuah produksi teater, yakni pra pentas, pentas dan pasca pentas.

Untuk pra pentas, jauh sebelum membuat sebuah produk seni teater harus kita pikirkan apa yang akan kita garap, nilai apa yang akan kita bawakan untuk masyarakat, siapa calon pengapresiasinya dan dimana letak terjadi peristiwa teaternya (tempat pementasannya) kemudian hal yang menariknya dan belum pernah kita sentuh adalah tidak adanya sosialisasi pra pentas: ada sebuah seminar mengenai pembedahan naskah untuk pecinta seni yang sifatnya kalangan akademis kalau perlu dibuka casting dengan gaya Akademi Fantasi Indonesia (AFI) untuk menarik peminat teater itu sendiri dan untuk calon penonton umum (masyarakat awam) diadakan penyuluhan lewat media-media yang sifatnya tidak hanya sekedar publikasi semata. Sosialisasi ini tidak hanya bagi calon penonton saja tetapi bagi pihak perusahaan swasta dan pemerintah pun ikut diundang agar pihak yang akan memberikan sponsor tidak terkesan “membeli kucing dalam karung” untuk kualitas yang sifatnya teknis dari penguasaan panggung dan kualitas aktor itu sendiri. Tindakan ini kesannya terkesan naïf, tapi bila kita teliti lebih jauh, justru inilah yang akan menghidupkan kualitas teater itu sendiri di masyarakat. Teater tidak hanya sebatas hiburan belaka, tapi merupakan suatu wacana intelektual yang kompleks, segar, dan tidak adanya pihak-pihak yang dirugikan, sehingga rantai produksi terus terjaga di samping tetap menjaga hubungan dengan pihak-pihak lain yang nantinya akan membantu proses terselenggaranya pertunjukan itu.

Jika sudah demikian, pada tahap ini saja jelas akan mendapatkan berkah yang bisa dipergunakan untuk kepentingan pra pentas itu sendiri. Untuk itu calon sutradara harus benar-benar menguasai teknis penyutradaraan dan sutradara sendiri harus memikirkan masak-masak apa yang akan digarapnya supaya teater bukan hanya garapan yang asal-asalan tapi lebih mengena sasarannya.

Selanjutnya yaitu tahap pentas. Jika kita pergi ke sebuah bioskop--sebagai bandingan, apa yang akan kita rasakan selain kenyamanan. Hal itu pula yang perlu kita pikirkan untuk produksi teater. Memang, sebagai orientasi yang jelas adalah pendapatan yang berasal dari penjualan tiket, tapi untuk tambahannya harus ada tambahan agar kebutuhan produksi lebih optimal diantaranya yaitu dengan membuat stand-stand penyediaan bahan konsumsi atau produk tambahan untuk penonton agar dalam tahap pelaksanaan tontonan teater dimulai, penonton sudah dinyamankan dengan suasana sebelum masuk gedung pertunjukan, sehingga ketika menonton pertunjukan teater, penonton dalan keadaan rilek dan siap untuk menerima masukan dari nilai-nilai teater itu sendiri.

Tahap akhir adalah pasca teater, inilah yang sering menentukan apakan teater itu disebut teater pemborosan atau tidaknya. Kadangkala setiap selesai pentas, pertunjukan itu selesai begitu saja, tanpa ada kelanjutan yang pasti. Yang lebih boros lagi pementasan hanya satu kali dengan menghabiskan biaya panggung yang berjuta-juta dan ketika sebuah produksi selesai hanya ada rapat prihal pembagian honor yang sealakadarnya dan sebagainya, tanpa ada rencana-rencana yang lebih menarik lagi, misalnya dipentaskan lagi di beberapa kota atau adanya rencana pameran hasil dokumentasi pementasan, ada pelelangan kostum, artistik hasil pementasan atau lebih jauh lagi adanya tahap pengkajian pra pentas untuk upaya pengembangan naskah pada pertunjukan yang selanjutnya supaya pementasan lebih menuju sempurna. Dokumentasi pementassan bisa dikirimkan ke yayasan yang mendanai perihal pementasan seni pertunjukan untuk tambahan produksi selanjutnya. Cara yang lain yaitu dengan bentuk tawaran bagi pihak perusahaan swasta, konglomerat-konglomerat, dan pemerintah yang ingin menikmati acara teater baik untuk acara pembelajaran atau dinikmati secara independen dan sebagainya.

Kata-kata pemborosan seharusnya dibuang jauh-jauh dengan alat solusi yang kuat dan bermutu. Akhirnya, Jika dengan keinginan yang kuat bahwa teater kita ingin maju, maka upaya-upaya pembenahan harus senantiasa kita lakukan. Jika teater ingin dihormati maka pelakunya sendiri yang pertama-tama harus menghormatinya, terutama dalam proses dengan keyakinan untuk terus maju, memajukan bumi perteateran di bumi Nusantara kita khususnya.

                    ***

Ivan Masdudin, lahir di Tasikmalaya, senang menonton teater. Tulisan ini saya tulis tahun 2003 saat saya menjadi ketua Lakon Teater dan saya temukan di harddisk komputer yang hampir tak terselamatkan.

No comments:

Post a Comment